Pada sebuah masa yang kelam. Aku dan dia terjebak pada pusaran asmara. Apa daya tembok yang menjulang menghadang kami berdua.
Rasa kami pun terpendam. Jadi rindu yang terlarang … Haiya!

Begitulah rintihan hati pemilik angkot yang diabadikan oleh Sir Mbilung McNdobos, lalu dikirimkan ke sini.








