Meski memasang teks “utamakan selamat”, tetap saja yang pertama kali menarik perhatian para pengendara di belakangnya justru lukisan gede ini. Sopir-sopir truk memang jahil …

Meski memasang teks “utamakan selamat”, tetap saja yang pertama kali menarik perhatian para pengendara di belakangnya justru lukisan gede ini. Sopir-sopir truk memang jahil …


Nasib? Bisa mujur, bisa ancur. Entahlah apa yang dia maksud.
Pulang malu, nggak pulang rindu. Ohhh…
(Bukannya aku banyak ngaso lalu mampir, tapi rezeki memang tak mau nyengir)


Maka wajarlah bila selalu dicari-cari oleh mertuanya. Duh…
(Jangan kau tuduh aku hanya mau anaknya tapi ogah bapak dan emaknya)

Alangkah beratnya mengais nafkah di atas roda. Ahhh…
(Setoran, oh setoran. Setiap hari mengukur panjang jalan. Bukan dirimu kuabaikan)
![]()

Silakan sampean mengembangkan imajinasi sendiri. Yang jelas, truk ini punya gambar tiga perempuan dan tulisan provokatif: bobo nenen. Haiyah …

Moga-moga setelah melihat posting ini sampean ndak langsung mengajak seseorang bobo berdua dan minta nenen …
Sumber: Ndoro Kangkung
Grafiti truk selalu mengundang senyum, meskipun untuk memotretnya diperlukan sedikit aksi akrobatik keahlian dan keberuntungan. Saya termasuk yang kerap beroleh keberuntungan itu, seperti ketika bertemu truk nggaya ini di jalan tol dalam kota Jakarta.

Rasanya lucu juga membaca kalimat, “Tak ada waktu buat mamah” [pakai “h”] ini. Ah, ini pasti karena mas sopirnya mencoba playing hard to get alias somse. Sebab, bukankah biasanya selalu ada waktu untuk mamah, terutama kalau malam?