Posts Tagged ‘ metromini ’

 
Sunday, May 25th, 2008

Berapa banyak orang yang masih ingat akan lagu Soleram? “Anak manis janganlah dicium sayang, kalau dicium marahlah kernetnya…”

bus soleram oh soleram

 
Saturday, April 19th, 2008

Galang Rambu Anarki, lagu Iwan Fals untuk anaknya (almarhum), itu telah mengilhami bus ini. Entah kecongkakan siapa yang mereka temui di jalan. Hajar, Bleh!

galang rambu anarki, hajar bleh!

 
Wednesday, April 2nd, 2008

Gagah betul sikap bang sopir dalam bekerja. Sekadar hobi, bukan profesi. Termasuk dalam hobi adalah ngetem semaunya, zig-zag, potong lajur kanan-kiri, atas nama kejar setoran. Baru hobi aja sampe segitunya, apalagi kalau profesional.

sekadar hobi bukan profesi

 
Thursday, March 27th, 2008

Bagaiamana bisa balap kalau tak ada kuda penarik di depan? Jawaban bodoh: kan ada mesin. Jika biofuel bisa memakai rumput dan bekatul, maka nama dokar balap pun sah.

dokar balap

 
Wednesday, March 19th, 2008

Ketika yang nyata tak ada lagi maka yang tersisa hanyalah kenangan. Tentang apa dan siapa, juga bagi siapa? Tak jelas. Atau tak penting.

metromini tinggal kenangan

Padahal menulis teks generik seperti itu bukan pekerjaan lima menit. Memotong stiker sampai menempelkannya, dengan membayar pula, bukan sekadar keisengan pengganti banting-membanting domino.

Cukup katakan “tinggal kenangan” dan orang lain di jalan tak kunjung paham.