Gombal betul ikrar si akang. Kalau dekat maunya nyayang, kalau jauh ngakunya kangen. Padahal… ehm… siapa tahu kan? Ah jangan suudzon. Lihat tulisan penutup ban: “utamakan sholawat”.

Gombal betul ikrar si akang. Kalau dekat maunya nyayang, kalau jauh ngakunya kangen. Padahal… ehm… siapa tahu kan? Ah jangan suudzon. Lihat tulisan penutup ban: “utamakan sholawat”.


Kalau pahlawan kesiangan sampean pasti tahu. Lah kalau badut karipan atawa kesiangan? Oh ini mungkin jenis penghibur yang jam wekernya rusak. Pertunjukan sudah dimulai, tapi dia masih enak-enak molor, ngeces, dan penonton menunggu.
Maklum, fotografernya memang sering bangun siang …
Beginikah musafir di era iPod? Mungkin. Hanya pengguna produk-produk bikinan Mister Steve Jobs yang paham. Ya misalnya Sir Mbilung yang memotret truk ini, lalu mengirimkannya dengan MacBook hitamnya.

Lantas musafir jadul seperti apa ya?
Apa hubungan antar truk penyedot tinja dan perempuan? Bertanyalah pada Si Mbilung si Raja Kuras yang mengirimkan foto ini.


Mungkin Mbilung membayangkan truk dan perempuan itu punya persamaan: sama-sama bisa menyedot. Tapi apakah sedotan truk tinja itu juga lebih menguras tenaga ketimbang sedotan perempuan, saya ndak tahu.
Bayangkan saja kalau situ disedot oleh perempuan-perempuan semlohai seperti gambar di truk itu. Duh, pasti terkuras deh ….
:: Foto diambil di kawasan Sanur, Bali, oleh seorang rekan perempuan Mbilung.
Pemilik mobil ini mungkin seorang pemberang. Barangkali ia pernah ditabrak dari belakang. Lantas agar terhindar dari kecelakaan yang sama, yang membuatnya mengumpat, ia memasang stiker yang menarik perhatian.

Stiker itu berisi sebuah umpatan dalam bahasa Jawa yang dalam bahasa Inggris berarti “motherfu**ker. Hmmm…lucu juga.