Archive for August, 2008

 
Friday, August 29th, 2008

Endel? Sama nggak dengan lebay?

endel

Tanyakanlah ke Seputar Bangil, pengirim foto ini.

 
Thursday, August 28th, 2008

Lah memangnya ada buaya desa? Apa bedanya? Buaya kota mungkin lebih mbois dibanding buaya desa. Tapi, dua-duanya barangkali sama-sama mengeluarkan air mata buaya.

buaya kota

Foto kiriman Seputar Bangil.

Apa sih yang disebut macho? Orang bilang itu semacam gagah, maskulin, manly, jantan, ngelanangi. Maka kita patut kasih salut sama si sopir bahwa dia merasa diri dan profesinya itu macho. Dia mungkin juga merasa bahwa kendaraan yang menentukan kepulan asap dapurnya itu juga macho. Adapun penumpang, silakan meraa makan choro karena sering ditelantarkan, dioper, dan diperlakukan sewenang-wenang oleh awak bus.

sopir macho penumpang makan coro

 
Saturday, August 16th, 2008

Memahami pesan pada pantat truk adalah memahami sopirnya. Jadi kalau dia mengaku tetap bersemangat, padahal ketika berada di jalan tol sering melanggar peraturan, misalnya merambat dengan kecepatan di bawah batas minimal 60 km/jam, maka mereka tak lebih dari kutu kambing congek. Mereka itu adalah kaum lamban yang tak merasa bersalah jika menyebabkan rambatan sejauh 2 km di belakang.

Pernah ada ide dari seorang pemobil yang jengkel lalu stres, agar ada undang-undang yang membenarkan pemakai jalan melakukan apa saja terhadap sopir truk lamban asalkan tak mengambil harta bendanya. Tujuannya agar sopir lain jera. Bahwa hal yang lebih berharga dari harta benda ikut terambil, itu hanya ekses dan sekaligus salah si sopir kenapa tak punya daya tahan.

Tentu di hari perayaan kemerdekaan ini gagasan gila yang berbahaya tak boleh mendapatkan tempat.  Mari kita benahi Indonesia bersama-sama. Pahit, lama, dan melelahkan, memang. Tapi Indonesia yang beres itu kudu kita perjuangan. Bukan begitu, bukan? Merdeka!

(Lho, ini pidato atau posting?)

 
Friday, August 15th, 2008

Mana yang lebih berat: tugas ata cinta? Kalau menurut pengemudi truk ini sih, berat tugas. Entah kalau menurut Yahya Kurniawan, si pengirim foto ini.

tugas dan cinta yahya

Bagaimana Pak Yahya?