Bagi si juragan maupun awak bus kota ini, paparazzi adalah sesuatu yang keren. Bahkan dengan satu “z” pun sudah gagah. Lantas siapa yang dia buru untuk dibidik? Atau jangan-jangan salah satu dari juragan dan awak ini punya anak namanya Razi?

Bagi si juragan maupun awak bus kota ini, paparazzi adalah sesuatu yang keren. Bahkan dengan satu “z” pun sudah gagah. Lantas siapa yang dia buru untuk dibidik? Atau jangan-jangan salah satu dari juragan dan awak ini punya anak namanya Razi?

Namanya Joko Tingkir. Bukan menjadikan sekawanan buaya sebagai rakit, tapi memanfaatkan bajaj berbahan bakar gas untuk membelah kemacetan Ibu Kota. Di depan Lab School Jalan Ahmad Dahlan dia berhenti lama menunggu penumpang, setelah itu merambat pelan. Kemacetan kian parah. Tukang parkir turun tangan untuk menghalau Mas Joko. Tapi buaya mana bisa diajak cepat? Mobil-mobil berlomba memencet klakson. Dasar Jakarta!

Ke manakah email sampean masuk? Ke truk ini. Namanya mail box. Terus dibawa ke mana? Ndak tahu deh. Nanti saya tanya sopirnya.
![]()
Dari Porong, Sidoarjo, kawasan yang dihumbalang lumpur Lapindo, seorang Zakki mengirimkan foto truk ini.
![]()
Entah mengapa pemilik truk lebih memilih gambar kepala suku Indian lengkap dengan mahkota bulu-bulu, dan bukan gambar Pak Lurah atau Pak Camat setempat.
Barangkali dia sekadar kagum pada sosok Indian. Mungkin saja dia kesal pada tetua kampung yang tak berdaya. Mungkin oleh sebab lain. Bertanyalah pada Zakki.
Begitulah ratapan para pengais rejeki di jalanan. Demi keluarganya, mereka bersedia melakukan apa saja, termasuk jadi kuli para tauke pemilik truk.
![]()
Zakki mengirimkan gambar mengenaskan ini dari Bangil, Jawa Timur.