Berapa banyak orang yang masih ingat akan lagu Soleram? “Anak manis janganlah dicium sayang, kalau dicium marahlah kernetnya…”

Berapa banyak orang yang masih ingat akan lagu Soleram? “Anak manis janganlah dicium sayang, kalau dicium marahlah kernetnya…”

Setiap kelompok penutur bahasa punya makian. Ada yang sekadar untuk menyalurkan kekesalan, ada juga yang punya fungsi tambahan sebagai pembangkit amarah supaya ada alasan berkelahi. Yang termasuk dalam makian itu biasanya berhubungan dengan binatang dan seks — khususnya yang menyangkut ibu.

Dalam perkembangannya, makian dalam kelompok tertentu bisa juga menjadi ekspresi pengakrab. Hanya orang yang sudah dianggap sanak yang boleh mengumpat.
Saya tak tahu apakah stiker ini berhubungan dengan sebuah komunitas. Saya melihatnya di Bogor.
Judul atau syair lagu populer kerap menginspirasi para pelukis grafis. Kita ingat dulu pernah ada “Madu dan Racun” — lagu yang dinyanyikan almarhum Gombloh Ari Wibowo — kemudian laris dipakai di mana-mana, ya judul tulisan, puisi, slogan, dan sebagainya,
![]()
Tapi, seperti halnya lagu-lagu lainnya, kata itu mudah gampang dan pergi digantikan yang baru. Kali ini yang populer giliran lagu milik Peterpan, Menghapus Jejakmu.
Maka, melajulah truk ini dengan syair lagu yang syahdu itu …
Tulisan pada bus Koantas Bima ini rapi, hasil kerja mesin pembuat stiker potong. Isinya serius. Kenapa ya sekolah modeling dan “kursus pengembangan pribadi” nggak mau melakukan yang serupa? Padahal pembaca tulisan itu justru orang yang tidak naik bus lho.
